Showing posts with label Salim A Fillah. Show all posts
Showing posts with label Salim A Fillah. Show all posts

Kapan Tepatnya Nuzul Quran ? | Kultum Ramadhan | Salim A Fillah

12:48:00 PM 1 Comment

Maka Aisyah mengatakan, jarak antara Rasulullah mendapatkan mimpi Nubuwahnya yang pertama dengan kehadiran Jibril as adalah sekitar 6 bulan
dari sejak Rabiul Awal, yakni bulan kelahiran beliau SAW hingga kemudian sampai pada bulan Ramadhan
Rabiul Awal, Rabiul Akhir, terus Jumadil Awal, Jumadil Tsaniyah, kemudian Rajab, Sya'ban, Ramadhan, sekitar 7 bulan
ini yang kemudian beliau alami

Nah Syeikh Shafiyur-Rahman Al-Mubarokfury kemudian menghitung bahwa dari berbagai macam dalil yang ikhtilaf
tentang kapan pertama kali wahyu turun untuk beliau SAW, karena tentang bulannya, itu berselisih para ulama,
ada yang mengatakan Rabi'ul Awwal, ada yang mengatakan Rojab, ada yang mengatakan Sya'ban, ada yang mengatakan Ramadhan
tetapi kemudian Syeikh Shafiyur-Rahman mengatakan, yang benar menurut kami adalah bahwa mimpi nubuwah memang datang sejak bulan Rabi'ul Awwal, dan itu mungkin terulang di bulan-bulan berikutnya tetapi

Jibril AS menemui beliau dengan membawakan surah Al-'Alaq itu terjadi pada bulan Ramadhan, ini karena kemudian Allah berfirman didalam surah Al-Baqoroh ayat yang ke-185
"Syahrur Ramadhanal ladzi unzila fihil Quran, hudal linnaasi wa bayyinati minal huda wal furqon"
bulan Ramadhan itu adalah bulan dimana diturunkan permulaan dari Al-Quran maka inilah yang menjadi dasar bahwa
Jibril datang menemui beliau itu pada bulan Ramadhan

Yang kedua adalah surah Al-Qodr ayat yang pertama, dimana kemudian Allah berfirman
"Innaa Anzalnaahu Fii Lailatil Qodr"
Sesungguhnya Allah telah menurunkan Al-Quran itu pada malam Al-Qodr
dan malam Al-Qodr itu terjadi hanya di bulan Ramadhan, meskipun ada penafsiran malam al-Qodr itu adalah malam diturunkannya al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia,
dari sisi Allah ke Lauhul Mahfudz, dan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, yang terjadi pada zaman azali tetapi sebagian ulama juga tetap berpendapat bahwa itu juga malam dimana permulaan Quran diturunkan

yaitu tanggal-tanggal akhir bulan Ramadhan karena disebut lailatul Qodr, terlebih Allah berfirman didalam surah Ad-Dukhan ayat yang ke-3, disana Allah mengatakan
"Inna Anzalnaahu fii Lailatin Mubarokatin Inna Kunna Mundziriin"
Kata Allah SWT : "Inna" Sesungguhnya kami, "Anzalnaahu" menurunkan Al-Quran itu "fii Lailatun Mubarokatin" didalam sebuah malam yang penuh berkah

kapan malam yang penuh berkah itu ?,
"tanazalul malaikatu war ruuhu fiiha" kata Ibnu Katsir dihubungkan dengan ayat di surah Al-Qodr, yakni malam dimana diturunkan malaikat-malaikat dan ruh, yakni Jibril AS
yang kemudian itu terjadi pada Lailatul Qodr dan iterjadi pada bulan Ramadhan maka kesimpulan beliau adalah ini terjadi pada bulan Ramadhan
kemudian sesudah itu beliau membahas kalau terjadi pada bulan Ramadhan maka tanggal berapakah ? karena para ulama juga ikhtilaf tentang tanggal kedatangan Jibril AS  kepada Rasulullah Muhammad SAW
kapan itu terjadi ? yang terjadi adalah kata para ulama ada yang mengatakan tanggal 7, tanggal 17, tanggal 18, tanggal 21

Nah tanggal berapakah yang tepat ? meskipun selama ini kita memperingati Nuzulul Quran itu tanggal 17 Ramadhan karena apa ? itu pendapat yang paling masyhur, tetapi syaikh Shafiyur-Rahman Al-Mubarokfury punya analisis yang menarik
Kata beliau, Pertama harinya harus hari Senin, jadi kapan wahyu pertama turun ? harinya harus hari Senin, dalilnya apa ?
Aisyah ra didalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Muslim, imam Ahmad, imam al-Baihaqi dan imam al-Hakim
menyatakan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa di hari Senin, maka beliau berkata hari Senin itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku mendapat wahyu yang pertama, maka
kalau begitu harinya harus hari Senin, lalu dipakailah ilmu Astronomi ilmu Hisab untuk kemudian menghitung hari Senin pada tahun dimana bulan Ramadhan terjadi, yakni tahun 610 Masehi

tahun ke-40 dari kehidupan beliau itu, itu terjadi pada tanggal berapa ? ternyata hari senin pada bulan Ramadhan pada tahun 610 Masehi itu terjadi pada tanggal 7, 14, 1 dan 28
7, 14,21 dan 28 karena kemudian yang ada riwayat di tanggal 21, kita nafikan yang 28 kata beliau

dan kemudian karena kita ingin menunjukkan bahwa "Inna Anzalnaahu fii Lailatil Qodri" maka Lailatul Qodr itu paling mungkin di 10 terakhir maka yang paling memungkinkan adalah tanggal 21 ramadhan
ini kata beliau. Nah, tanggal 21 Ramadhan itu kalau dikonversi ke dalam tanggal Masehi maka ditemukan angka 10 Agustus 1610 Masehi, maka bulan Ramadhan yang beririsan dengan bulan Agustus
itu bukan hanya terjadi pada tahun 2011 dan tahun 1945 saat kita memproklamasikan kemerdekaan tetapi juga terjadi ketika turun wahyu pertama kepada Rasulullah saw pada tahun 1610M

Bacalah Al-Quran itu dengan Menangis | Kajian Majelis Jejak Nabi | ustadz Salim A Fillah

12:45:00 AM Add Comment

Bacalah Al Quran itu dengan menangis | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

"wa rottilil qurana tartiila" 
Allah mengatakan "Dan tartilkanlah al-Quran itu demgan setartil-tartilnya"
"Dan bacalah al-Quran itu dengan setartil mungkin"

Ibnu Abbas ra mengatakan, yang dimaksud dengan tartil adalah
yang pertama adalah kehadiran hati
yang kedua adalah keterfahaman yang dialami oleh si pembaca maupun si pendengar
baru yang ketiga adalah tentang kefasihan didalam melafalkan

Jadi kata Ibnu Abbas,yang dimaksud tartil itu urutannya,
pertama kehadiran hati didalam membaca Al-Quran
kehadiran hati ini sangat ditekankan oleh Rasulullah
sampai kemudian beliau mengatakan
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis"

Al-Ghazali menambahkan keterangan,
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis kalau kaliau tidak bisa pura-puralah menangis Lalu menangislah atas kepura-puraan kalian itu"

Ini kalimat yang tampaknya menarik,
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis, jika tidak bisa maka berpura-puralah menangis didalam membacanya lalu sesudah itu maka menangislah karena kepura-puraan kalian"

ini karena sangat pentingnya menghadirkan hati didalam membaca Al-Quran, jadi menghadirkan hati ini menempati urut pertama dalam apa yang disebut sebagai tartil 

Yang kedua adalah keterfahaman yang membaca maupun yang mendengar.

Jadi bagaimana yang membaca dan yang mendengar itu memahami apa yang dibaca itu.

Bagian dari tartil adalah kemudian memahami, baik yang membaca maupun yang mendengar memahami apa yang sedang diperdengarkan dari kalamullah

Baru yang ketiga adalah Fashoha atau kefasihan
didalam melafalkan huruf-hurufnya, jadi kefasihan dalam melafalkan huruf ini hanyalah urut ketiga dari apa yang disebut sebagai "wa rottilil qurana tartiila"

Sampai-sampai Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyim Al-Jauziyah mengatakan, "Termasuk ketertipuan yang ditiupkan oleh setan adalah orang-orang yang bersibuk-sibuk didalam mempelajari ilmu melafalkan A, Ba, Ta dan Tsa kemudian melalaikan bahwa Quran itu diturunkan untuk memberikan pengajaran, Quran itu diturunkan untuk diambil ibrohnya.

Ya artinya, berlebihan didalam ilmu Tajwid sehingga menghalangi orang dari membahas makna-makna yang terkandung didalam Al-Quran, mengamalkan petunjuk-petunjuk yang kemudian diarahkan oleh Allah SWT didalam sana.

Itu adalah sebuah kata Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim, sampai beliau katakan dengan sangat ekstrim, itu adalah ketertipuan yang kemudian ditiupkan oleh setan kedalam jiwa manusia
karena apa? karena kemudian yang lebih penting tadi, yang pertama adalah kehadiran hati, yang kedua adalah kefahaman
terhadap apa yang dibaca dan diperdengarkan itu dan baru yang ketiga adalah kefasihan dalam melafalkan.

Maka saya kemarin buka di youtube,nyoba lihat bagaimana tilawahnya para ulama ketika membaca quran dan ngimami sholat
saya cek syeikh Albani, ternyata bacaan quran beliau sama antum mungkin bagus antum,sama syeikh bin Bas, itu juga kemudian bacaan Al-Quran beliau tidak kemudian dihias-hias dengan lagu-lagu yang indah, datar saja,yang kita rasakan itu bukan bahwa ini bacaan yang indah meskipun ada perintah Rasulullah, "Zayyinul quran biashwatikum", "Hiasi quran dengan suara-suara kalian"

Nah kalau ulama mutakhir zaman sekarang yang bacaannya indah yang dikenal sebagai Fakih, itu adalah Dr. Yusuf Al-Qordhowi, itu kalau mengimami juga bacaannya sangat indah tetapi yang lain itu saya melihat, Syeikh Husaini, Syeikh BimBas, kemudian Syeikh Albani, ternyata biasa-biasa saja bacaan beliau didalam sholat

Jadi ini bukanlah aib, begitu ya, karena memang yang pertama yang harus disebut sebagai tartil itu adalah Ihdhorul Qulb, kehadiran hati
yang kedua baru kefahaman apa yang dibaca dan yang diperdengarkan itu, dan baru yang ketiga adalah fashoha atau kefasihan dalam melafalkannya

Maka para ulama bersepakat, membaca Al-Quran dengan tartil itu wajib tetapi mempelajari ilmu Tajwid itu hukumnya fardhunya adalah kifayah

Membaca Al-Quran dengan tartil itu fardhu 'ain tetapi mempelajari ilmu Tajwid sampai detail itu fardhu kifayah

Tidak kemudian setiap orang bertanggungan untuk belajar secara detail, yang penting ngerti kapan saatnya mendengung, kapan saatnya menyamarkan, kapan saatnya kemudian membecanya dengan jelas.

Gak perlu kemudian hafal ini namanya adalah mungkin begitu ya Ikhfa', yang begini begini begini, karena ada sifat huruf
bentuknya begini begini begini, itu , nah yang seperti itu fardhu kifayah. Kita termasuk kebaikan mengikuti pembelajaran yang semacam itu

Tetapi yang terpenting justru adalah bagaimana kemudian pengamalannya didalam melafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan benar

Ini yang dimaksud dengan "warottilil qurana tartiila" adalah pertama-tama hadirkan hati, yang kedua fahami apa yang dibaca dan yang didengar itu, yang ketiga fasihkan lisan kita
untuk kemudian melafalkannya secara benar

SUBSCRIBE Pembelajar Quran Channel http://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel
dan kunjungi website kami di http://pembelajar-quran.blogspot.com 

Nabi SAW Bukanlah Orang Gila | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

11:32:00 PM Add Comment

Nabi SAW bukanlah Orang Gila | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

"Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)","Maa" tidaklah "anta" engkau ini hai Muhammad "bini'mati rabbika" disebabkan oleh nikmat Tuhan-mu "bimajnun" termasuk orang gila.

Ada orang-orang yang mengatakan kepada Rasulullah saw bahwa dia gila dan mereka membaca tanda-tandanya ketika Muhammad mendapat wahyu, tanda-tanda ketika Muhammad mendapat wahyu itu dianggap orang seakan-akan Muhammad sebagai orang gila.

Kita kemarin sudah menjelaskan bagaimana caranya Rasulullah mendapat wahyu bisa kemudian melalui mimpi, bisa kemudian melalui Jibril mengilhamkan kedalam dada beliau kemudian beliau mengerti dengan sangat jelas dan jernih, bisa dengan Jibril tampil dihadapan beliau dengan meminjam muka dan penampilan manusia lalu menyampaikan firman Allah SWT, bisa kemudian dalam bentuk Jibril menampakkan wujud aslinya kemudian menyampaikan kepada Rasulullah saw apa yang harus disampaikan, bisa kemudian dengan yang kelima, ini yang biasanya kemudian dianggap, kalau orang kemudian hanya belajar psikologi, melihat fenomenologi dari apa yang dialami Rasulullah, dia akan kemudian mungkin melihat Rasulullah ini sebagai seorang yang kemudian mengalami sebuah gejala skizofrenia.

Karena Rasulullah misalnya diriwayatkan dalam hadist bahwa Rasulullah salah satu bentuk beliau menerima wahyu adalah ketika beliau kemudian sedang duduk atau berdiri atau apapun kemudian suara bergemerincing yang sangat keras terdengar pada beliau dan beliau kemudian berkeringat dingin dan menggigil dan beliau kemudian seakan-akan kemudian tidak sadarkan diri secara sesaat gitu ya, terpisah dari dunia secara sesaat dan beliau menanggung beban yang sangat berat.

Seperti ketika beliau berada diatas unta, unta itu bisa ngejlek/menderum karena gak kuat menahan beban wahyu itu atau ketika Anas bin Malik kemudian sedang memangku beliau maka Anas kemudian terjengkang jatuh tidak mampu menahan beban itu.
Kalau kemudian melihat yang semacam ini mungkin memang ada orang yang mengatakan, "itu kan tanda-tanda gila" gitu,

itu kan tanda-tanda gila

itu skizofrenik

Tetapi Allah menegaskan dalam ayat ini "Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)", Engkau ini dengan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang yang gila

Dan Rasulullah SAW memang kemudian diakui nanti didalam pembahasan keempat makar kepada Al-Quran, kita nanti akan menemukan Al-Walid bin Al-Mughiroh telah mengatakan " Muhammad itu tidak gila, kita sudah pernah lihat orang gila, tapi Muhammad tidak menunjukkan tanda-tanda kegilaan yang serupa dengan apa yang mereka lihat pada orang-orang yang gila”

"Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)", Engkau atas nikmat Tuhanmu bukanlah orang yang gila

Bukti bahwa Muhammad gila, pernah kemudian menjadi sebab Abu Bakar ra mendapat gelar As-shidiq, kenapa ?

Karena orang-orang Quraisy ketika itu mendatangi Abu Bakar dan mengatakan,"Hai Abu Bakar, kemarin kami mengatakan bahwa Muhammad gila"

"tapi kami belum punya bukti, sekarang berpisahlah engkau dari Muhammad karena Demi Allah Muhammad benar-benar gila dan kami sudah membawa buktinya"

Abu Bakar bertanya,"Memangnya apa buktinya kalau beliau gila?"

Maka orang-orang itu mengatakan,"Muhammad mengatakan bahwasanya semalam dia berada di Syam, di Al-Aqsha, di Palestina dan pagi ini dia sudah berada disini diantara kita"
kata orang-orang itu, " Tidak mungkin orang yang waras mengatakan yang demikian"

"Kau Abu Bakar, bukankah kau pernah pergi ke Syam, ke Al-Aqsha, ke Palestina?", "Ya", kata Abu Bakar.

"Berapa lama yang kau tempuh?" ,                                                                   

"1 bulan pulang pergi"  

"Nah, betulkan Muhammad gila ?",

Maka Abu Bakar bertanya, "saya tanya dulu, betulkah Rasulullah saw mengatakan yang demikian ?"

" Demi Allah kami dengar sendiri Muhammad mengatakan bahwa semalam dia ada di Al-Aqsha dan hari ini dia sudah ada disini, tidak mungkin itu diucapkan oleh orang yang masih waras"

Kata Abu Bakar As-shidiq, "Kalau memang Rasulullah mengatakan demikian, saya percaya"

"Kalau memang Rasulullah mengatakan demikian, saya percaya"

Maka ketika itu pula Abu Bakar As-shidiq ra dihajar sampai pingsan dan kemudian harus digotong pulang ke rumah


Di rumah ketika sadar, siuman pertama kali yang beliau tanyakan adalah bagaimana keadaan Rasulullah saw, inilah kemudian yang dituduhkan orang-orang tentang kegilaan Rasulullah.

Kunjungi dan Subscribe/Langganan Youtube Channel kami di 
Pembelajar Quran Channel : http://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel

Wajah Bercahaya Sang Nabi | Kajian Majelis Jejak Nabi | ustadz Salim A Fillah

9:43:00 PM Add Comment


Kemudian dikatakan oleh Hindun, "yatala'la'u wajhuhu tala'lu'al qomar lailatal badr"
wajahnya itu,yatala'la'u itu dari kata lu'lu' artinya bermutiara, wajah Rasulullah itu bermutiara maksudnya bercahaya kemilau, tala'lual qomar lailatal badr, seperti berkilaunya bulan pada saat purnama.

Jadi wajah Rasulullah itu bercahaya kemilau kata Hindun bin Abi Hala seperti kemilaunya bulan pada saat purnama, maksudnya kemilau seperti apa ?

Disini dikatakan dalam bahasa Arab disebut sebagai tala'la'u, tala'la'u itu bersifat seperti mutiara, mutiara itu kan kemilau ya kalau kena sinar, dia kemudian memancarkan kilauan, maka seperti itu pula bulan. Bulan itu kan tidak bersinar sendiri tetapi memantulkan cahaya matahari.

Nah Rasulullah itu juga wajahnya memantulkan satu cahaya, cahaya yang sangat agung

Pernah ditanyakan kepada al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu ta'ala, ada orang bertanya begini, kenapa orang yang kemudian ahli sholat malam itu wajahnya enak dilihat ? jadi ada orang yang bertanya, kenapa orang yang suka sholat malam itu wajahnya enak dilihat ?

Maka kata Al-Hasan al-Bashri, Bagaimana tidak enak dilihat ? karena dia itu sudah menghadap Allah Subhanahu wata'ala di hadapannya dan mendapatkan pancaran cahaya dari Allah maka sepanjang harinya dia itu memantulkan pancaran cahaya Allah itu, maka wajahnya enak dilihat.

Maka apatah lagi Rasulullah saw, yang bukan cuma ahli sholat malam, kalo kita disunnahkan, beliau itu diwajibkan untuk sholat malam maka sholat malam yang diwajibkan kepada Rasulullah bukan sekedar sedikit-sedikit tetapi bahwa beliau "qumil laila illa qoliila" tegakkanlah malam itu dengan sholat kecuali sedikit saja diantaranya.

Jadi kebanyakan malam Rasulullah diisi dengan sholat sampai Aisyah mengatakan kaki beliau bengkak karena sholat malamnya yang berdirinya sangat lama

Ibnu Abbas mengatakan, saya pernah ikut sholat bersama Rasulullah ketika itu beliau kemudian dalam sholatnya membaca surah Al-Baqoroh di roka'at pertamanya, saya berharap setelah selesai A-Baqoroh lalu ruku' tapi ternyata disambung dengan Ali Imron
saya berharap setelah Ali Imron selesai lalu ruku', tetapi kemudian ternyata Rasulullah menyambungnya dengan An-Nisa, saya berharap setelah An-Nisa lalu ruku' tapi ternyata Rasulullah menyambungnya dengan Al-Ma'idah, saya berharap setelah Al-Ma'idah ruku', tetapi ternyata Rasulullah menyambungnya dengan yang berikutnya berikutnya sampai kemudian sampai pada surah Al An'am

Hampir-hampir, kata Ibnu Abbas, saya tinggalkan Rasulullah karena tidak kuat mengikuti sholat beliau saw.

Jadi kenapa kemudian dikatakan oleh Hindun bin Abi Hala, wajah Rasulullah itu, begitu ya, beliau adalah seorang yang "yatala'la'u wajhahu tala'lu'al qomar lailatal badr"
wajahnya itu kemudian kemilau bercahaya seperti cahaya bulan pada malam purnama

Kalau mau meneladani Rasulullah supaya wajahnya bercahaya seperti pada bulan purnama ada baiknya kemudian memperbanyak sholat malam/qiyamul lail seperti beliau

SUBSCRIBE ke Youtube Channel kami PEMBELAJAR QURAN
https://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel


Bagaimana kita tidak cinta kepada Nabi SAW | ust. Salim A.Fillah

10:43:00 AM Add Comment


Kalau orang Indonesia mengatakan tidak kenal akan menjadi sebab akan tidak sayangnya kita pada seseorang maka tidak mengenal Rasulullah SAW adalah bahaya yang besar karena tanpa mencintai Rasulullah SAW kita akan jatuh kepada satu kehinaan kelak di akhirat.

Al-imam al-Qurtubi ketika mentafsir surah al-kahfi ayat yang ke-18 beliau menyorot tentang anjing, yang anjing itu adalah sahabat dari ashhabul kahfi, beliau didalam Aljamiliah Kamil Quran tafsir beliau mengatakan maka mari kita bayangkan bahwa seekor anjing saja yang kemudian membersamai orang-orang yang mulia dan setia kepada mereka mendapatkan kemuliaan yang besar juga di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka bagaimanakah seorang insan yang kemudian dia membersamai orang-orang yang juga mulia didalam cinta dan ketaatan juga kesetiaan kepada mereka,

Hendaklah ini menjadi perhatian, kata beliau imam al-Qurtubi
bagi orang-orang yang masih merasa teledor akan ketaatannya kepada Allah
bagi yang masih merasa sering lalai didalam mengingat Allah
bagi yang masih sering kemudian didalam kehidupannya terkadang terjerembab didalam kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah
dan sungguh kita semua ini adalah manusia yang tidsak pernah lepas dari kesalahan-kesalahan
maka mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah kemuliaan, adalah sebuah kebersamaan yang sangat agung

Sebagaimana dalam sebuah hadis yang ditakhrij oleh imam Muslim dan dibawakan oleh rawi teratas Anas bin Malik ra.

Anas mengatakan : Datang seorang kepada Rasulullah SAW kemudian dia berkata,
" Ya Rasulullah mata sa'ah?", "Wahai Rasulullah kapan datangnya hari kiamat?"

Maka Rasulullah SAW kemudian mengatakan, "Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?"

Orang itu menjawab,"Fainni ahibbullaaha warasulahu",

"Maka sesungguhnya aku ini, aku mencintai Allah dan rasul-Nya sebagai bekalku untuk menghadapi hari kiamat"
Dan Rasulullah saw menyahut kepadanya, "wa anta ma'a man ahbabta"
" Dan engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai"


Dalam Azaful Mufrad al-imam al-Bukhari memiliki satu lafadz lain,
al-mar'u ma'a ma yuhib seseorang itu kelak akan bersama dengan yang dicintainya
sementara dalam lafadz Muslim, anta ma'a man ahbabta,engkau pasti akan bersama dengan orang yang engkau cintai.
Maka Anas bin Malik ra, rawi dari hadist ini, yang meriwayatkan hadis ini, yakni sahabat Anas bin Malik mengatakan dalam sebuah tambahan yang dia sampaikan, “Maka aku sungguh demi Allah sangat berbahagia atas hadis ini dan demi Allah andai orang menukarnya dengan bumi seisinya tidak akan aku berikan, sebab apa? kata Anas bin Malik, sebab kegembiraanku bersumber dari kata-kata Rasulullah saw "anta ma'a man ahbabta",engkau akan bersama dengan yang kau cinta,”

“Aku ini kata Anas bin Malik, jika kemudian melihat kepada ibadahku sholatku ketaatanku puasaku zakatku sedekahku hajiku umrohku jihadku tilawah quranku dan semua kebaikan yang pernah kulakukan maka sungguh demi Allah kebaikanku itu tidak ada seujung kuku dibanding apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, Abu Bakar, dan Umar ibn Khattab radhiallahu 'anhuma, tetapi kata Anas bin Malik, yang keadaanku dalam amal sholih  sama sekali tidak mencapai ujung kuku mereka itu”

kata Anas bin Mallik, “Dalam hati aku mencintai mereka. Dalam hati aku mencintai mereka”, kata Anas bin Malik
“Maka demi Allah aku berharap, meskipun amalku tidak sebaik Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tetapi Allah kelak didalam surga akan membersamakanku dengan mereka karena aku mencintai mereka”

Maka mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah hajat yang paling agung bagi kita
sebab kita sadar sebagai hamba-Nya kita jauh dalam mengamalkan segala kebajikan yang beliau tuntunkan.
kita jauh dari terhiasi akhlak mulia sebagaimana beliau tampilkan,
kita jauh dari apa-apa yang kemudian beliau jalani didalam kehidupan

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW, yang Rasulullah itu
pada suatu saat beliau dilempar dengan batu dan kena di pelipis beliau dan darah itu mengucur deras maka beliau tangkupkan tangannya untuk menampung darah itu
para ulama mengatakan, kenapa Rasulullah menampung darahnya yang jatuh itu agar kemudian dia tidak sampai menetes di bumi sebab andai sampai darah itu menetes di bumi sebagaimana disampaikan oleh Jibril,
"Ya Rasulullah andai darah itu sampai menetes ke bumi maka Tuhanmu akan murka kepada kaum yang membuat engkau meneteskan darah dan mengazab mereka"

Jadi Rasulullah menangkupkan tangan untuk menampung darahnya agar tidak jatuh ke bumi itu bukan karena merasa sakit, iya beliau merasa sakit dan pedih sekali tetapi karena beliau tidak ingin kaumnya mendapat azab gara-gara darah beliau yang sangat suci dan mulia itu menetes ke bumi, maka beliau tampung, jangan sampai kemudian jatuh yang kalau itu sampai jatuh ke bumi menetes di tanah Allah SWT murka dan kemudian kaumnya akan diazab

Sebab itu.... maka bagaimana kita tidak cinta kepada rasulullah saw yang perutnya diganjal dua buah batu sementara sahabatnya hanya diganjal dengan satu batu demi cintanya kepada kita,

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW yang kemudian satu hari di perang Uhud dihantam kepala beliau dengan kemudian tiga cakram besi masuk kedalam pipinya, semuanya demi cintanya kepada kita

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW yang kemudian dilempari batu diteriaki dikejar-kejar tersaruk saruk harus menghindarkan diri dari orang-orang yang kemudian tidak berperikemanusiaan itu sambil mengatakan

“Ya Rabbi, ampuni mereka,mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.
“Ya Rabbi, ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”

Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW, kepada orang yang kemudian dikatakan gila dikatakan penyair tidak waras dikatakan dukun dikatakan ahli sihir yang memisahkan manusia dan ketika dicaci maki membalas pujian dan ketika disakiti membalas kunjungan

Bagaimana kita tidak cinta Rasulullah SAW ? dan kalau kita cinta pasti kemudian betapa ingin kita mengetahui setiap detail tentang diri beliau SAW
betapa ingin kita kemudian untuk memahami hatta bahkan setiap inci dari pribadi beliau saw

diambil dari kajian Majelis Jejak Nabi ust. Salim A Fillah
Pembelajar Quran Channel (www.pembelajar-quran.blogspot.com)


Jodoh Dunia Akhirat | sebuah nasihat pernikahan oleh ust. Salim A. Fillah

3:04:00 PM Add Comment

Bismillaah..

Setiap orang tentunya menginginkan pernikahan yang langgeng dengan jodoh yang sama hingga kakek nenek, hingga maut memisahkan bahkan istilah baru-nya jodoh dunia akhirat.

Tapi jodoh dunia akhirat yang seperti apa? tentunya kita tidak menginginkan kebersamaan dunia akhirat yang digambarkan Al-Quran untuk Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, yang karena kekafiran keduanya dan permusuhan keduanya terhadap Nabi SAW, Allah SWT memastikan keduanya kebersamaan yang abadi di neraka , na'udzubillahi min dzalik.

Sebagai muslim, tentunya jodoh yang diinginkan adalah jodoh yang shalih/shalihah yang bisa bersama mengikhtiarkan hadirnya barokah dalam pernikahan di saat susah dan senang dan bersama tidak hanya di dunia namun hingga di akhirat bersama di surga..

Rasulullah SAW memberikan panduan bagaimana memilih jodoh yang terbaik, apa saja yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan, semuanya dibahas dengan lugas oleh ust. Salim A Fillah dalam video nasihat pernikahan ini yang berjudul "Jodoh Dunia Akhirat"

Memilih dengan Ilmu-Nya - Nasihat Pernikahan oleh ust. Salim A.Fillah

12:44:00 PM Add Comment


Bismillaah...

Didalam memilih pasangan yang akan mendampingi kita dunia dan akhirat, libatkan Allah Subhanahu wa ta'ala dan libatkan orang-orang tershalih di sekitar kita.
Nabi SAW bersabda:
"Tidak akan menyesal orang yang istikharah dan tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah"

Maka dua perkara ini selayaknya kita lakukan ketika kita menghadapi urusan besar, Nabi SAW menuntunkan untuk istikharah, beliau sholat 2 rakaat dan kemudian berdoa "Allahumma inni astakhiruka bi'ilmika wa astaqdiruka biqudratika" dalam doa ini terkandung kepasrahan yang paling agung pada Allah.

"Ya Allah , sesungguhnya aku beristikharah dengan ilmu-Mu, aku memohon kepastian dengan ilmu-Mu, bukan dengan ilmu-ku, bukan dengan pengetahuanku tentang dia,bukan pengenalanku dengan dia entah cuma zhahirnya saja pun kecil sekali dibandingkan keseluruhan dirinya, sedikit sekali ilmuku tentang dia. Engkau yang Maha mengetahui tentang dia, maka aku memohon pilihan dengan ilmu-Mu bukan dengan pengetahuanku tentang dia sebab Engkau mengetahui dia lahir bathin, engkau mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi,Engkau mengetahui segala isi hati"

Hendaknya demikianlah sikap seorang muslim, seorang hamba yang memasrahkan urusan dan pilihan hidup-nya dengan melibatkan Allah dalam keputusannya juga orang-orang yang shalih

video ini diambil dari Pro-You Media Channel

Barokallahu lii wa lakum wassalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuhu

Apa yang kita cari dalam pernikahan ? Sebuah nasihat pernikahan dari ust.Salim A.Fillah

7:59:00 AM Add Comment

Sebagai sebuah lembaran kehidupan baru
Pernikahan mengandung harapan-harapan
Seseorang memasuki kehidupan pernikahan
Dengan mengucapkan akad yang agung
Perjanjian yang berat

Apa yang kita niatkan didalam hati kita ?
Apa yang ingin kita raih ?
Apa yang ingin kita tuju ?
Apa yang kita cari dalam pernikahan?


Dikisahkan seorang sahabat sayyidina Uqail bin Abi Thalib, ketika beliau menikah, seperti pada umumnya bangsa Arab,orang mengucapkan doa untuk beliau Semoga bahagia dan banyak anak....

Semoga bahagia dan banyak anak...merupakan harapan yang sangat wajar. Namun beliau mengatakan, "Jangan kalian berdoa seperti itu, tapi berdoalah seperti Rasulullah SAW mendoakan pengantin" Orang-orang bertanya," bagaimana beliau mendoakan pengantin ?"
Nabi SAW berdoa "Barokallahu laka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir" yang artinya "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dan semoga Allah memberikan berkah atasmu dan semoga Allah menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan" amiin

Video ini merupakan sebuah nasihat pernikahan dari ust. Salim A. Fillah yang membahas mengenai meluruskan niat kita sebelum memasuki kehidupan pernikahan, bukan hanya sekedar mencari bahagia dan banyak anak, bahagia sampai kakek nenek atau menjadi jodoh dunia akhirat. Namun sebaik-baik harapan dalam pernikahan adalah Semoga Allah berkenan melimpahkan keberkahan dan kebaikan dalam setiap keadaan dalam pernikahan di saat senang dan sulitnya, senantiasa dalam ketaatan pada-Nya di dunia dan akhirat dan semoga Allah berkenan mengumpulkan kembali nanti di surga-Nya bukan seperti Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil yang dikumpulkan di neraka-Nya.


Video ini diambil dari Pro-You Media Channel

Barokallahu lii wa lakum, assalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuhu