Surah Al Fiil Part 1| Nouman Ali Khan Lectures | Ilustrated Tafseer Quran Juz Amma (Juz 30)

7:44:00 AM Add Comment


Surah Al Fiil Part 1| Nouman Ali Khan Lectures | Ilustrated Tafseer Quran Juz Amma (Juz 30)

Assalamu'alaykum warohmatullahi wa barokatuhu
A'udzubillahi minas syaithonir rojiim
Bismillaahirrohmaanirrohiim

الم تر كيف فعل ربك باصحاب الفيل
Alam taro kaifa fa'ala robbuka biashhaabil fiil (QS.Al-Fiil :1)
Didn't you see how your lord dealt with the people of the elephant ?

الم يجعل كيدهم في تضليل
Alam yaj'al kaidahum fii tadhlil (QS.Al-Fiil :2)
Didn't He make their plot in waste ?

وارسل عليهم طيرا ابابيل
wa arsala 'alayhim thoiron abaabiil (QS.Al-Fiil :3)
And He sent against them birds herds upon herds

ترميهم بحجارة من سجيل
tarmiihim bihijaarotim min sijjiil (QS.Al-Fiil:4)
Striking them with stones of hard clay

فجعلهم كعصف ماكول
faja'alahum ka'ashfim ma'kuul (QS.Al-Fiil:5)
So (He) made them an empty field of stalks eaten up

So in the beginning insha Allahu ta'ala, there's interesting comment made by Dr Fadil Sholih Hassan ar-Ra'i

“Hiya surotul fiiha ibrotun likulli thohiyyatin mutakabbirin mutajabbir fii kulli ushur wal lazmal”

He says this surah has a warning and a lesson for every rebellious arrogant tyrant that lives in any age and any time in any civillization any nation

So He says, this is not just the surah talking about the oppresion of Abrahah against the Ka'bah but this surah is sending a message to anyone who hopes to,you know, doing oppresion upon civilian population, or overpower one a nation or ruler trying to overpower another nation by means their military power.

With the understanding what they are gonna do to fight against us ? they have no military capability to stand up to us and with that you know assumption with that arrogant assumption

They go in and they don't care about the consequences, you know when a society is not in power, they talk about the Rule of Law and they call people to obey by the Rule of Law. But when a society has power they will say the Law is for everyone else, and we are above the Law, we're beyond the Law and this people would apply some nice things stuff  to buy some special occasions, and who's gonna stop them?

Even when they trample all over the Law and the regulations dare the most powerful, you know,civilization, who's gonna question them? who's gonna question their oppresion? and this is something that has happened throughout history
it's not difficult to see example of that event of our time but this is something
that you know, the surah is trying to explain to us.

Now He gives reason why He thinks this is the key, listen to surah why we should limited to a discussion only of the historical account which of course are critical
liza jaaf fi'il taro, this is why the verb "taro" came,"alam taro" now there are different ways of saying this

The first part of the ayah roughly translated is "Didn't you see?", that's the first part "Didn't you see?" common translation would be "Didn't you see how your lord dealt with the people of the elephant?"

This is probably common translation you heard before but I will commenting only on the first phrase "alam taro" specifically the verb “to see”, that's been use in the present tense, “bisighati mudhori' liddhalalati 'alal istimror wattajadur” and the specific use of that known as English translation come out as past tense, right?
"alam taro" come out as "Didn't you see?" and clearly if you understand English that past tense but in Arabic there's rethorical function here,

And as suppose to saying,"amaroaita" right? you could use the past tense function also but that wasn't use, that use the past tense, it allude something continuous in Arabic rethoric, in balaghoh in linguistic, refers to something that didn't happen once that happens over and over again.

And this surah from  a linguistic point of view, we'll learn something amazing about this surah, how the changing of tenses carry amazing lesson in them.

So that use just of the mudhorri', the present future tense in the Arabic, with the word Lam, regardless the presence of the word lam, indicate that this is not just something to observing think about for that time but for all time

Now we look at some commentary by ash-Shawkani rahimahullah
“wa huwa ta'jibullahu shalallahu 'alayhi wa sallam bima fa'alallaahu lah”, and this is to give the messenger in a sense of amazement and wonder in regards to what Allah himself did with the people of the elephant

"Qod 'alimta yaa Muhammad"
You already know Muhammad shalallahu 'alayhi wa sallam

“aw 'alimannaasa mawjudun fii 'ashrik”
or the people who are present in your time they also know very very well

“wa mim ba'dihim”
and even the people that came after them,

“bima balagohu minal akbaril mutawwatiroh min qishati ashhabi fiihim”,
because of what came to them from continuous narative and narration and people telling the story over and over again of the story of the elephant

“wa ma fa'alallaahu bihim fa ma lakum laa tu'minuun”
this is the last part of ash-Shawkani's commentary. He said just in the "Alam taro kaifa" Allah Azza Wa Jalla, it is as tough he is saying "Didn't you realize what Allah does to his enemy? so whats wrong with you? why don"t you believe in Him?"
you're using that to take pride of How Allah protected His house so why don't you take next step toward iman?

Now finally " Alam yaj'al kaydahum fii tadhliil" (continue to part 2)

SUBSCRIBE Pembelajar Quran Channel http://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel


Kunjungi website kami di : http://pembelajar-quran.blogspot.com

Bacalah Al-Quran itu dengan Menangis | Kajian Majelis Jejak Nabi | ustadz Salim A Fillah

12:45:00 AM Add Comment

Bacalah Al Quran itu dengan menangis | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

"wa rottilil qurana tartiila" 
Allah mengatakan "Dan tartilkanlah al-Quran itu demgan setartil-tartilnya"
"Dan bacalah al-Quran itu dengan setartil mungkin"

Ibnu Abbas ra mengatakan, yang dimaksud dengan tartil adalah
yang pertama adalah kehadiran hati
yang kedua adalah keterfahaman yang dialami oleh si pembaca maupun si pendengar
baru yang ketiga adalah tentang kefasihan didalam melafalkan

Jadi kata Ibnu Abbas,yang dimaksud tartil itu urutannya,
pertama kehadiran hati didalam membaca Al-Quran
kehadiran hati ini sangat ditekankan oleh Rasulullah
sampai kemudian beliau mengatakan
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis"

Al-Ghazali menambahkan keterangan,
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis kalau kaliau tidak bisa pura-puralah menangis Lalu menangislah atas kepura-puraan kalian itu"

Ini kalimat yang tampaknya menarik,
"Bacalah Al-Quran itu dengan menangis, jika tidak bisa maka berpura-puralah menangis didalam membacanya lalu sesudah itu maka menangislah karena kepura-puraan kalian"

ini karena sangat pentingnya menghadirkan hati didalam membaca Al-Quran, jadi menghadirkan hati ini menempati urut pertama dalam apa yang disebut sebagai tartil 

Yang kedua adalah keterfahaman yang membaca maupun yang mendengar.

Jadi bagaimana yang membaca dan yang mendengar itu memahami apa yang dibaca itu.

Bagian dari tartil adalah kemudian memahami, baik yang membaca maupun yang mendengar memahami apa yang sedang diperdengarkan dari kalamullah

Baru yang ketiga adalah Fashoha atau kefasihan
didalam melafalkan huruf-hurufnya, jadi kefasihan dalam melafalkan huruf ini hanyalah urut ketiga dari apa yang disebut sebagai "wa rottilil qurana tartiila"

Sampai-sampai Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyim Al-Jauziyah mengatakan, "Termasuk ketertipuan yang ditiupkan oleh setan adalah orang-orang yang bersibuk-sibuk didalam mempelajari ilmu melafalkan A, Ba, Ta dan Tsa kemudian melalaikan bahwa Quran itu diturunkan untuk memberikan pengajaran, Quran itu diturunkan untuk diambil ibrohnya.

Ya artinya, berlebihan didalam ilmu Tajwid sehingga menghalangi orang dari membahas makna-makna yang terkandung didalam Al-Quran, mengamalkan petunjuk-petunjuk yang kemudian diarahkan oleh Allah SWT didalam sana.

Itu adalah sebuah kata Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim, sampai beliau katakan dengan sangat ekstrim, itu adalah ketertipuan yang kemudian ditiupkan oleh setan kedalam jiwa manusia
karena apa? karena kemudian yang lebih penting tadi, yang pertama adalah kehadiran hati, yang kedua adalah kefahaman
terhadap apa yang dibaca dan diperdengarkan itu dan baru yang ketiga adalah kefasihan dalam melafalkan.

Maka saya kemarin buka di youtube,nyoba lihat bagaimana tilawahnya para ulama ketika membaca quran dan ngimami sholat
saya cek syeikh Albani, ternyata bacaan quran beliau sama antum mungkin bagus antum,sama syeikh bin Bas, itu juga kemudian bacaan Al-Quran beliau tidak kemudian dihias-hias dengan lagu-lagu yang indah, datar saja,yang kita rasakan itu bukan bahwa ini bacaan yang indah meskipun ada perintah Rasulullah, "Zayyinul quran biashwatikum", "Hiasi quran dengan suara-suara kalian"

Nah kalau ulama mutakhir zaman sekarang yang bacaannya indah yang dikenal sebagai Fakih, itu adalah Dr. Yusuf Al-Qordhowi, itu kalau mengimami juga bacaannya sangat indah tetapi yang lain itu saya melihat, Syeikh Husaini, Syeikh BimBas, kemudian Syeikh Albani, ternyata biasa-biasa saja bacaan beliau didalam sholat

Jadi ini bukanlah aib, begitu ya, karena memang yang pertama yang harus disebut sebagai tartil itu adalah Ihdhorul Qulb, kehadiran hati
yang kedua baru kefahaman apa yang dibaca dan yang diperdengarkan itu, dan baru yang ketiga adalah fashoha atau kefasihan dalam melafalkannya

Maka para ulama bersepakat, membaca Al-Quran dengan tartil itu wajib tetapi mempelajari ilmu Tajwid itu hukumnya fardhunya adalah kifayah

Membaca Al-Quran dengan tartil itu fardhu 'ain tetapi mempelajari ilmu Tajwid sampai detail itu fardhu kifayah

Tidak kemudian setiap orang bertanggungan untuk belajar secara detail, yang penting ngerti kapan saatnya mendengung, kapan saatnya menyamarkan, kapan saatnya kemudian membecanya dengan jelas.

Gak perlu kemudian hafal ini namanya adalah mungkin begitu ya Ikhfa', yang begini begini begini, karena ada sifat huruf
bentuknya begini begini begini, itu , nah yang seperti itu fardhu kifayah. Kita termasuk kebaikan mengikuti pembelajaran yang semacam itu

Tetapi yang terpenting justru adalah bagaimana kemudian pengamalannya didalam melafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan benar

Ini yang dimaksud dengan "warottilil qurana tartiila" adalah pertama-tama hadirkan hati, yang kedua fahami apa yang dibaca dan yang didengar itu, yang ketiga fasihkan lisan kita
untuk kemudian melafalkannya secara benar

SUBSCRIBE Pembelajar Quran Channel http://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel
dan kunjungi website kami di http://pembelajar-quran.blogspot.com 

Nabi SAW Bukanlah Orang Gila | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

11:32:00 PM Add Comment

Nabi SAW bukanlah Orang Gila | Kajian Majelis Jejak Nabi | Ustadz Salim A Fillah

"Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)","Maa" tidaklah "anta" engkau ini hai Muhammad "bini'mati rabbika" disebabkan oleh nikmat Tuhan-mu "bimajnun" termasuk orang gila.

Ada orang-orang yang mengatakan kepada Rasulullah saw bahwa dia gila dan mereka membaca tanda-tandanya ketika Muhammad mendapat wahyu, tanda-tanda ketika Muhammad mendapat wahyu itu dianggap orang seakan-akan Muhammad sebagai orang gila.

Kita kemarin sudah menjelaskan bagaimana caranya Rasulullah mendapat wahyu bisa kemudian melalui mimpi, bisa kemudian melalui Jibril mengilhamkan kedalam dada beliau kemudian beliau mengerti dengan sangat jelas dan jernih, bisa dengan Jibril tampil dihadapan beliau dengan meminjam muka dan penampilan manusia lalu menyampaikan firman Allah SWT, bisa kemudian dalam bentuk Jibril menampakkan wujud aslinya kemudian menyampaikan kepada Rasulullah saw apa yang harus disampaikan, bisa kemudian dengan yang kelima, ini yang biasanya kemudian dianggap, kalau orang kemudian hanya belajar psikologi, melihat fenomenologi dari apa yang dialami Rasulullah, dia akan kemudian mungkin melihat Rasulullah ini sebagai seorang yang kemudian mengalami sebuah gejala skizofrenia.

Karena Rasulullah misalnya diriwayatkan dalam hadist bahwa Rasulullah salah satu bentuk beliau menerima wahyu adalah ketika beliau kemudian sedang duduk atau berdiri atau apapun kemudian suara bergemerincing yang sangat keras terdengar pada beliau dan beliau kemudian berkeringat dingin dan menggigil dan beliau kemudian seakan-akan kemudian tidak sadarkan diri secara sesaat gitu ya, terpisah dari dunia secara sesaat dan beliau menanggung beban yang sangat berat.

Seperti ketika beliau berada diatas unta, unta itu bisa ngejlek/menderum karena gak kuat menahan beban wahyu itu atau ketika Anas bin Malik kemudian sedang memangku beliau maka Anas kemudian terjengkang jatuh tidak mampu menahan beban itu.
Kalau kemudian melihat yang semacam ini mungkin memang ada orang yang mengatakan, "itu kan tanda-tanda gila" gitu,

itu kan tanda-tanda gila

itu skizofrenik

Tetapi Allah menegaskan dalam ayat ini "Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)", Engkau ini dengan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang yang gila

Dan Rasulullah SAW memang kemudian diakui nanti didalam pembahasan keempat makar kepada Al-Quran, kita nanti akan menemukan Al-Walid bin Al-Mughiroh telah mengatakan " Muhammad itu tidak gila, kita sudah pernah lihat orang gila, tapi Muhammad tidak menunjukkan tanda-tanda kegilaan yang serupa dengan apa yang mereka lihat pada orang-orang yang gila”

"Maa anta bini'mati rabbika bimajnun (QS.Al-Qolam:2)", Engkau atas nikmat Tuhanmu bukanlah orang yang gila

Bukti bahwa Muhammad gila, pernah kemudian menjadi sebab Abu Bakar ra mendapat gelar As-shidiq, kenapa ?

Karena orang-orang Quraisy ketika itu mendatangi Abu Bakar dan mengatakan,"Hai Abu Bakar, kemarin kami mengatakan bahwa Muhammad gila"

"tapi kami belum punya bukti, sekarang berpisahlah engkau dari Muhammad karena Demi Allah Muhammad benar-benar gila dan kami sudah membawa buktinya"

Abu Bakar bertanya,"Memangnya apa buktinya kalau beliau gila?"

Maka orang-orang itu mengatakan,"Muhammad mengatakan bahwasanya semalam dia berada di Syam, di Al-Aqsha, di Palestina dan pagi ini dia sudah berada disini diantara kita"
kata orang-orang itu, " Tidak mungkin orang yang waras mengatakan yang demikian"

"Kau Abu Bakar, bukankah kau pernah pergi ke Syam, ke Al-Aqsha, ke Palestina?", "Ya", kata Abu Bakar.

"Berapa lama yang kau tempuh?" ,                                                                   

"1 bulan pulang pergi"  

"Nah, betulkan Muhammad gila ?",

Maka Abu Bakar bertanya, "saya tanya dulu, betulkah Rasulullah saw mengatakan yang demikian ?"

" Demi Allah kami dengar sendiri Muhammad mengatakan bahwa semalam dia ada di Al-Aqsha dan hari ini dia sudah ada disini, tidak mungkin itu diucapkan oleh orang yang masih waras"

Kata Abu Bakar As-shidiq, "Kalau memang Rasulullah mengatakan demikian, saya percaya"

"Kalau memang Rasulullah mengatakan demikian, saya percaya"

Maka ketika itu pula Abu Bakar As-shidiq ra dihajar sampai pingsan dan kemudian harus digotong pulang ke rumah


Di rumah ketika sadar, siuman pertama kali yang beliau tanyakan adalah bagaimana keadaan Rasulullah saw, inilah kemudian yang dituduhkan orang-orang tentang kegilaan Rasulullah.

Kunjungi dan Subscribe/Langganan Youtube Channel kami di 
Pembelajar Quran Channel : http://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel

Wajah Bercahaya Sang Nabi | Kajian Majelis Jejak Nabi | ustadz Salim A Fillah

9:43:00 PM Add Comment


Kemudian dikatakan oleh Hindun, "yatala'la'u wajhuhu tala'lu'al qomar lailatal badr"
wajahnya itu,yatala'la'u itu dari kata lu'lu' artinya bermutiara, wajah Rasulullah itu bermutiara maksudnya bercahaya kemilau, tala'lual qomar lailatal badr, seperti berkilaunya bulan pada saat purnama.

Jadi wajah Rasulullah itu bercahaya kemilau kata Hindun bin Abi Hala seperti kemilaunya bulan pada saat purnama, maksudnya kemilau seperti apa ?

Disini dikatakan dalam bahasa Arab disebut sebagai tala'la'u, tala'la'u itu bersifat seperti mutiara, mutiara itu kan kemilau ya kalau kena sinar, dia kemudian memancarkan kilauan, maka seperti itu pula bulan. Bulan itu kan tidak bersinar sendiri tetapi memantulkan cahaya matahari.

Nah Rasulullah itu juga wajahnya memantulkan satu cahaya, cahaya yang sangat agung

Pernah ditanyakan kepada al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu ta'ala, ada orang bertanya begini, kenapa orang yang kemudian ahli sholat malam itu wajahnya enak dilihat ? jadi ada orang yang bertanya, kenapa orang yang suka sholat malam itu wajahnya enak dilihat ?

Maka kata Al-Hasan al-Bashri, Bagaimana tidak enak dilihat ? karena dia itu sudah menghadap Allah Subhanahu wata'ala di hadapannya dan mendapatkan pancaran cahaya dari Allah maka sepanjang harinya dia itu memantulkan pancaran cahaya Allah itu, maka wajahnya enak dilihat.

Maka apatah lagi Rasulullah saw, yang bukan cuma ahli sholat malam, kalo kita disunnahkan, beliau itu diwajibkan untuk sholat malam maka sholat malam yang diwajibkan kepada Rasulullah bukan sekedar sedikit-sedikit tetapi bahwa beliau "qumil laila illa qoliila" tegakkanlah malam itu dengan sholat kecuali sedikit saja diantaranya.

Jadi kebanyakan malam Rasulullah diisi dengan sholat sampai Aisyah mengatakan kaki beliau bengkak karena sholat malamnya yang berdirinya sangat lama

Ibnu Abbas mengatakan, saya pernah ikut sholat bersama Rasulullah ketika itu beliau kemudian dalam sholatnya membaca surah Al-Baqoroh di roka'at pertamanya, saya berharap setelah selesai A-Baqoroh lalu ruku' tapi ternyata disambung dengan Ali Imron
saya berharap setelah Ali Imron selesai lalu ruku', tetapi kemudian ternyata Rasulullah menyambungnya dengan An-Nisa, saya berharap setelah An-Nisa lalu ruku' tapi ternyata Rasulullah menyambungnya dengan Al-Ma'idah, saya berharap setelah Al-Ma'idah ruku', tetapi ternyata Rasulullah menyambungnya dengan yang berikutnya berikutnya sampai kemudian sampai pada surah Al An'am

Hampir-hampir, kata Ibnu Abbas, saya tinggalkan Rasulullah karena tidak kuat mengikuti sholat beliau saw.

Jadi kenapa kemudian dikatakan oleh Hindun bin Abi Hala, wajah Rasulullah itu, begitu ya, beliau adalah seorang yang "yatala'la'u wajhahu tala'lu'al qomar lailatal badr"
wajahnya itu kemudian kemilau bercahaya seperti cahaya bulan pada malam purnama

Kalau mau meneladani Rasulullah supaya wajahnya bercahaya seperti pada bulan purnama ada baiknya kemudian memperbanyak sholat malam/qiyamul lail seperti beliau

SUBSCRIBE ke Youtube Channel kami PEMBELAJAR QURAN
https://youtube.com/c/PembelajarQuranChannel


[Ilustration] Surah Al-Ashr | Nouman Ali Khan Lectures|Tafseer Quran juz...

2:46:00 PM Add Comment

Bismillaah..

والعصر ان الانسان لفي خسرالا الذين امنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
Demi Masa, Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.


Dan gambaran yang ingin saya bagi dengan anda adalah salah satu yang akan membantu anda memahami konsep besar dari surat Al-asr.

Bayangkan bersama saya bahwa anda sedang tenggelam dan anda tidak sadarkan diri, dua hal...anda tenggelam dan tak sadarkan diri

apakah anda punya banyak waktu? jika anda tenggelam dan tak sadarkan diri apakah anda mempunyai banyak waktu?
Tidak, kita tidak mempunyai banyak waktu
itu artinya, waktu semakin menipis dan anda tahu dalam bahasa arab kata apa yang digunakan untuk waktu yang menipis, kata untuk itu adalah "al-asr"

"asr" secara bahasa berarti waktu yang semakin menipis, bagian akhir hari dimana waktu semakin menipis, itu adalah waktu solat asar. Asar berasal dari kata asir, jus yang diperas keluar..waktu yang diperas keluar dari tangan anda

"asara tauba" digunakan jika anda mengambil kain yang tenggelam di air dan jika anda memerasnya air keluar dari dalamnya, asara adalah kata kerja yang digunakan seperti itu untuk memerasnya, jadi Allah membicarakan waktu ini.

Anda tenggelam dan tak sadarkan diri dan waktu anda tak banyak, apa hal pertama yang harus anda lakukan untuk selamat dari posisi ini jika anda berharap selamat ?

Hal pertama apa yang harus anda lakukan, apa yang anda pikirkan? Bangun!

Itu hal pertama yang harus anda lakukan..jika anda tetap tak sadarkan diri dan anda akan habis!

Kondisi pertama yang harus anda lakukan, anda harus BANGUN, walaupun anda dalam mimpi indah, dan dalam mimpi anda menikmati kesuksesan terhebat anda mengendarai ferari seperti iklan di tv, dengan bukit bukit dan jalan yang besar dan sungai di sisi lain seperti mobil yang atapnya terbuka dan anda berkendara di jalan menikmati hidup, itulah mimpi anda!

Tapi pada saat anda sadar, anda menyadari, anda tenggelam, anda berada didalam air

itu adalah kondisi pertama, anda harus BANGUN

setelah anda bangun, anda berkata "aduh ini adalah kenyataan yang kejam, saya sedang menikmati mimpi indah..saya akan kembali tidur..jika anda melakukan ini, orang seperti apa anda orang tak waras..anda tak waras, atau seseorang yang tak berani menerima kenyataan karena mereka menemukan kenyataan begitu sulit, mereka memutuskan untuk kembali tidur walaupun mereka sudah bangun..

Apakah orang ini jika dia tenggelam, apakah dia bisa menyalahkan orang lain? orang yang bangun kemudian kembali tidur. Seseorang yang belum terbangun,mungkin...

Tapi orang yang sudah terbangun, berkata..ini tidak bagus..dan mereka kembali tidur, mereka tidak bisa menyalahkan orang lain..kecuali diri mereka sendiri

Sekarang bayangkan mereka bangun, apa yang harus anda lakukan selanjutnya? wow ini buruk saya tenggelam. Walaupun anda tidak bisa berenang, anda akan menggunakan otot dalam tubuh anda untuk bergerak menuju permukaan dan anda menemukan pergerakan menuju kebawah dan pergerakan ke permukaan.

Setelah anda menemukan pergerakan untuk ke permukaan, anda hanya akan melakukan hal tersebut, betul?

Dengan kata lain, hal pertama yang anda lakukan adalah BANGUN kedua adalah BERENANG

Anda harus melakukan sesuatu untuk menuju ke permukaan, saat anda mencapai kepermukaan, anda menghirup udara segar dan anda ditarik lagi kebawah ,anda ditarik lagi kebawah, oleh siapa? anda tidak akan percaya ini...

Ada rantai disekeliling kaki anda dan saudara sepupu anda sedang tertidur, ia menyeret anda dan sekarang anda tenggelam karena sepupu anda. Apa yang harus anda lakukan sekarang? anda harus membangunkan dia!

Bahkan anda bukan membangunkan dia untuk menyelamatkan dia, untuk apa anda membangunkan dia?

mungkin anda mau menyelamatkannya.

mungkin anda tidak menyukai sepupu anda.

tapi intinya adalah, anda berusaha membangunkan dia karena jika anda tidak membangunkan dia, siapa yang akan ikut tenggelam?

anda sendiri....jadi anda membangunkan dia

dan dia berkata, “Aduh,saya lagi naik ferari! dan kamu membangunkan saya tanpa alasan!! saya akan kembali tidur”

Apakah anda dapat berkata, saya sendiri tidak suka dengan kamu..terserahlah!..tidak bisa..

Jika dia kembali lagi tidur, apa yang akan anda lakukan??

JANGAN, BANGUN AYO AYO! kita tidak bisa menyerah.

kamu tidak bisa tidak menerima kenyataan!
dan anda harus terus membangunkannya, sampai dia berkata."baiklah apa yang akan kita lakukan?"

kalian berdua berenang ke permukaan, dan kemudian anda kembali diseret kebawah oleh nenek anda
oleh tante anda
oleh tetangga anda
oleh anak anda
oleh putri anda, apakah proses terus berlanjut?

Ada 4 proses, untuk proses menyelamatkan hidup ini..

pertama, mereka harus bangun..
kemudian berusaha untuk berenang
kemudian beritahu orang lain, bahwa ini adalah KEBENARANnya, Ayo!
walaupun salah satu dari mereka capek, dan mereka berkata.."saya tidak bisa melakukan ini lagi.."
kita selalu melakukan ini terus
saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan ini lagi..dan yang lain berkata TIDAK! kita akan selamat bersama
kita harus SELAMAT BERSAMA! AYO AYO AYO!! TERUS BERUSAHA!

Apa anda pernah melihat film seperti itu ?..
dimana mereka berusaha melarikan diri dari tentara
dan salah satu dari mereka menjadi lelah,tidak bisa lari lagi, apa yang lainnya lakukan?
ayo, ayo kita bisa melakukan ini! dan mereka terus berlari walaupun mereka sudah lelah

mereka bekerja sama satu dengan yang lainnya, karena hidup mereka bergantung satu dengan yang lainnya.
mereka bekerja sama mati-matian, apa yang Allah katakan di akhir surah?

pertama manusia tenggelam dalam kerugian, Wal-Asr waktu menipis

innal insana lafii khusr
saya artikan manusia tenggelam dalam kerugian
apa anda melihat persamaannya? manusia tenggelam dalam kerugian.

apa pengecualiannya? illa lladzina..

orang yang percaya, percaya apa?
Allah bukan berkata percaya upada rukun iman,
Percaya kepada kitabnya, kepada Rasulnya, kepada hari akhir..tidak Allah sebutkan
Allah tidak menyebutkan apa apa..

Walaupun sebenernya semua hal tersebut termasuk kedalamnya..
tetapi menurut kata-katanya dan isi dari surat ini
hal pertama apa yang harus dipercayai
bahwa mereka dalam kerugian..
bahwa mereka tenggelam
dan setelah mereka percayai itu, dan mereka memperbaiki iman mereka
apa hal yang perlu terjadi, mereka akan berenang
dan bergerak keatas,

Bagaimana Allah menggambarkan hal ini?

"wa amilu ssolihaati"
dan mereka melakukan amal baik
amal yang membantu memperbaiki situasi

omong omong, salih adalah kata sifat, jama' muannats salim, secara literal artinya yang memperbaiki sesuatu.

sesuatu yang salah dan ia perbaiki, jadi mereka melakukan sesuatu yang memperbaiki situasi. literal seperti orang yang berusaha untuk berenang, tapi karena mereka terikat dengan orang lain, hal lain apa yang mereka harus lakukan

watawa saubilhaqq

mereka harus memberitahu yang lainya tentang kebenaran.
tidak hanya mereka memberitahu kebenarannya, tidak.
mereka harus membangunkannya dan mengajaknya. Ayo ayo!!
berulang-ulang "tawasi" mempunyai takrar didalamnya
ada repetisi didalamnya
berulang ulang! ini kebenarannya, ini kebenarannya!

Anda tahu kenapa? orang yang mau anda selamatkan
walaupun anda membangunkannya sebentar selama khutbah
tebak apa yang terjadi setelah khutbah selesai?
mereka kembali tidur
mereka kembali tenggelam
jadi apa yang harus anda lakukan? anda harus membangunkannya lagi
dan kemudian mereka mengantuk lagi
dan anda harus membangunkannya lagi, ini adalah tawasi bil haqq

Mungkin anda akan lelah melakukan hal tersebut, anda mungkin akan tidak sabar, Allah menambahkan "watawasaw bis sabr"

sabar berarti konsistensi, kegigihan
kesabaran anda harus tetap menuju ketujuan, dan terus melakukan ini.
karena keselamatan anda bergantung dari hal ini
pada akhirnya jika anda melakukan semua tapi tidak ada kesabaran, dan anda menyerah, maka anda akan tenggelam juga

walaupun anda punya iman, amal baik, dan anda memberitahu Kebenaran tapi anda tidak punya kesabaran, anda tetap tenggelam,

Jadi ada berapa kondisi yang harus terpenuhi untuk selamat keempat-empatnya. Seluruh 4 kondisi diperlukan, mereka sangat kritikal dan penting karenanya ada "DAN" diantaranya. Anda melihat perkembangan logisnya dari iman ke amal salih, watawa saubil haqq, watawwa saubil sabr sangat indah digambarkan dalam surat ini.




Bagaimana kita tidak cinta kepada Nabi SAW | ust. Salim A.Fillah

10:43:00 AM Add Comment


Kalau orang Indonesia mengatakan tidak kenal akan menjadi sebab akan tidak sayangnya kita pada seseorang maka tidak mengenal Rasulullah SAW adalah bahaya yang besar karena tanpa mencintai Rasulullah SAW kita akan jatuh kepada satu kehinaan kelak di akhirat.

Al-imam al-Qurtubi ketika mentafsir surah al-kahfi ayat yang ke-18 beliau menyorot tentang anjing, yang anjing itu adalah sahabat dari ashhabul kahfi, beliau didalam Aljamiliah Kamil Quran tafsir beliau mengatakan maka mari kita bayangkan bahwa seekor anjing saja yang kemudian membersamai orang-orang yang mulia dan setia kepada mereka mendapatkan kemuliaan yang besar juga di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka bagaimanakah seorang insan yang kemudian dia membersamai orang-orang yang juga mulia didalam cinta dan ketaatan juga kesetiaan kepada mereka,

Hendaklah ini menjadi perhatian, kata beliau imam al-Qurtubi
bagi orang-orang yang masih merasa teledor akan ketaatannya kepada Allah
bagi yang masih merasa sering lalai didalam mengingat Allah
bagi yang masih sering kemudian didalam kehidupannya terkadang terjerembab didalam kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah
dan sungguh kita semua ini adalah manusia yang tidsak pernah lepas dari kesalahan-kesalahan
maka mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah kemuliaan, adalah sebuah kebersamaan yang sangat agung

Sebagaimana dalam sebuah hadis yang ditakhrij oleh imam Muslim dan dibawakan oleh rawi teratas Anas bin Malik ra.

Anas mengatakan : Datang seorang kepada Rasulullah SAW kemudian dia berkata,
" Ya Rasulullah mata sa'ah?", "Wahai Rasulullah kapan datangnya hari kiamat?"

Maka Rasulullah SAW kemudian mengatakan, "Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?"

Orang itu menjawab,"Fainni ahibbullaaha warasulahu",

"Maka sesungguhnya aku ini, aku mencintai Allah dan rasul-Nya sebagai bekalku untuk menghadapi hari kiamat"
Dan Rasulullah saw menyahut kepadanya, "wa anta ma'a man ahbabta"
" Dan engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai"


Dalam Azaful Mufrad al-imam al-Bukhari memiliki satu lafadz lain,
al-mar'u ma'a ma yuhib seseorang itu kelak akan bersama dengan yang dicintainya
sementara dalam lafadz Muslim, anta ma'a man ahbabta,engkau pasti akan bersama dengan orang yang engkau cintai.
Maka Anas bin Malik ra, rawi dari hadist ini, yang meriwayatkan hadis ini, yakni sahabat Anas bin Malik mengatakan dalam sebuah tambahan yang dia sampaikan, “Maka aku sungguh demi Allah sangat berbahagia atas hadis ini dan demi Allah andai orang menukarnya dengan bumi seisinya tidak akan aku berikan, sebab apa? kata Anas bin Malik, sebab kegembiraanku bersumber dari kata-kata Rasulullah saw "anta ma'a man ahbabta",engkau akan bersama dengan yang kau cinta,”

“Aku ini kata Anas bin Malik, jika kemudian melihat kepada ibadahku sholatku ketaatanku puasaku zakatku sedekahku hajiku umrohku jihadku tilawah quranku dan semua kebaikan yang pernah kulakukan maka sungguh demi Allah kebaikanku itu tidak ada seujung kuku dibanding apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, Abu Bakar, dan Umar ibn Khattab radhiallahu 'anhuma, tetapi kata Anas bin Malik, yang keadaanku dalam amal sholih  sama sekali tidak mencapai ujung kuku mereka itu”

kata Anas bin Mallik, “Dalam hati aku mencintai mereka. Dalam hati aku mencintai mereka”, kata Anas bin Malik
“Maka demi Allah aku berharap, meskipun amalku tidak sebaik Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tetapi Allah kelak didalam surga akan membersamakanku dengan mereka karena aku mencintai mereka”

Maka mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah hajat yang paling agung bagi kita
sebab kita sadar sebagai hamba-Nya kita jauh dalam mengamalkan segala kebajikan yang beliau tuntunkan.
kita jauh dari terhiasi akhlak mulia sebagaimana beliau tampilkan,
kita jauh dari apa-apa yang kemudian beliau jalani didalam kehidupan

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW, yang Rasulullah itu
pada suatu saat beliau dilempar dengan batu dan kena di pelipis beliau dan darah itu mengucur deras maka beliau tangkupkan tangannya untuk menampung darah itu
para ulama mengatakan, kenapa Rasulullah menampung darahnya yang jatuh itu agar kemudian dia tidak sampai menetes di bumi sebab andai sampai darah itu menetes di bumi sebagaimana disampaikan oleh Jibril,
"Ya Rasulullah andai darah itu sampai menetes ke bumi maka Tuhanmu akan murka kepada kaum yang membuat engkau meneteskan darah dan mengazab mereka"

Jadi Rasulullah menangkupkan tangan untuk menampung darahnya agar tidak jatuh ke bumi itu bukan karena merasa sakit, iya beliau merasa sakit dan pedih sekali tetapi karena beliau tidak ingin kaumnya mendapat azab gara-gara darah beliau yang sangat suci dan mulia itu menetes ke bumi, maka beliau tampung, jangan sampai kemudian jatuh yang kalau itu sampai jatuh ke bumi menetes di tanah Allah SWT murka dan kemudian kaumnya akan diazab

Sebab itu.... maka bagaimana kita tidak cinta kepada rasulullah saw yang perutnya diganjal dua buah batu sementara sahabatnya hanya diganjal dengan satu batu demi cintanya kepada kita,

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW yang kemudian satu hari di perang Uhud dihantam kepala beliau dengan kemudian tiga cakram besi masuk kedalam pipinya, semuanya demi cintanya kepada kita

Maka bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW yang kemudian dilempari batu diteriaki dikejar-kejar tersaruk saruk harus menghindarkan diri dari orang-orang yang kemudian tidak berperikemanusiaan itu sambil mengatakan

“Ya Rabbi, ampuni mereka,mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.
“Ya Rabbi, ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”

Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW, kepada orang yang kemudian dikatakan gila dikatakan penyair tidak waras dikatakan dukun dikatakan ahli sihir yang memisahkan manusia dan ketika dicaci maki membalas pujian dan ketika disakiti membalas kunjungan

Bagaimana kita tidak cinta Rasulullah SAW ? dan kalau kita cinta pasti kemudian betapa ingin kita mengetahui setiap detail tentang diri beliau SAW
betapa ingin kita kemudian untuk memahami hatta bahkan setiap inci dari pribadi beliau saw

diambil dari kajian Majelis Jejak Nabi ust. Salim A Fillah
Pembelajar Quran Channel (www.pembelajar-quran.blogspot.com)


Jodoh Dunia Akhirat | sebuah nasihat pernikahan oleh ust. Salim A. Fillah

3:04:00 PM Add Comment

Bismillaah..

Setiap orang tentunya menginginkan pernikahan yang langgeng dengan jodoh yang sama hingga kakek nenek, hingga maut memisahkan bahkan istilah baru-nya jodoh dunia akhirat.

Tapi jodoh dunia akhirat yang seperti apa? tentunya kita tidak menginginkan kebersamaan dunia akhirat yang digambarkan Al-Quran untuk Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, yang karena kekafiran keduanya dan permusuhan keduanya terhadap Nabi SAW, Allah SWT memastikan keduanya kebersamaan yang abadi di neraka , na'udzubillahi min dzalik.

Sebagai muslim, tentunya jodoh yang diinginkan adalah jodoh yang shalih/shalihah yang bisa bersama mengikhtiarkan hadirnya barokah dalam pernikahan di saat susah dan senang dan bersama tidak hanya di dunia namun hingga di akhirat bersama di surga..

Rasulullah SAW memberikan panduan bagaimana memilih jodoh yang terbaik, apa saja yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan, semuanya dibahas dengan lugas oleh ust. Salim A Fillah dalam video nasihat pernikahan ini yang berjudul "Jodoh Dunia Akhirat"